Nice

Tips Menjadi Sehat

Banyak cara untuk menjadi sehat

Olahraga Itu Penting

Mengapa olahraga itu penting?

Terbebas dari Penyakit

Banyak rang yang mudah terkena penyakit karena kurang makan dan olahraga

Banyak Minum

Mengapa harus banyak minum??

Kamis, 16 November 2017

MIMPI (Cerpen)

          Namaku Ravi, dan kini aku duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama). Aktivitasku di sekolah penuh dengan kegiatan organisasi serta menjadi relawan kegiatan sosial. Memang awalnya terasa berat, tapi itulah keinginanku. Keinginan dari dalam hati sanubari yang ingin meraih kesuksesan melalui pengalaman-pengalaman hidup di negeri rantauan. Sukses dimasa muda bukanlah sesuatu yang mustahil. Semua memerlukan waktu dan perjuangan yang luar biasa dan melakukan suatu kegiatan di luar kebiasaan kebanyakan orang. Bukan sekadar aktivitas biasa tetapi untuk menebus sebuah mimpi.
Ingin rasanya aku memiliki satu hari yang khusus dihadiahkan untukku. Hari dimana agar aku bisa beristirahat, sejenak menikmati hari libur. Sedikit menghirup udara segar dan terbebas dari rutinitas dalam kampus serta segelintir aktivitas luar sekolah. Rumahku yang jauh dan jadwalku yang begitu padat membuatku jarang liburan pulang ke rumah. Libur Idul Fitri dan Idul Adha adalah jadwal rutinku untuk menemui kedua orang tuaku. Hal inilah yang membuat aku selalu rindu dengan kedua orang tuaku, terutama ibuku.
Ibuku seorang menejer yang luar biasa. Mampu mengurusi semua urusan dalam negeri rumah tangga. Menjadi sosok guru yang terbaik, satu-satunya menteri pendidikan yang kukenal yang mengajarkan nama-nama benda di sekitarku. Mengenalkan agama pada semua anggota masyarakat dalam keluargamu. Menjadi menteri pertahanan yang selalu setia mewujudkan visi misi kehidupan yang sakinah, mawadah, warahmah.
Sosok itulah yang membuat hidupku tetap semangat menjalani hari-hari yang telah Tuhan susun secara sistematis. Hari ini harus lebih baik agar hidupku terus berjalan dan maju ke depan. Walau terkadang rasa capek dan bosan menghinggapiku, menghipnotis semua semangat yang ada. Tapi, aku selalu mencoba menepisnya. Aku tak ingin perjuangan dan kerja keras mereka di desa sia-sia hanya karena sikap malasku. Demi menebus impianku, aku ingin kuliah dengan benar, dan sungguh-sungguh. Aku tak ingin mengecewakan mereka. Pada tiap tetes keringatnya ada kesungguhan dan keikhlasan untukku, memenuhi semua titah Tuhan yang diamanahkannya.
Semester ini memang semester yang melelahkan, tiap harinya hampir melumpuhkan seluruh sel-sel otot tubuhku karena kegiatan praktik dan presentasi yang disambut dengan kegiatan mengajar disisa waktunya. Maklum sudah hampir lulus makannya aku tidak ingin selalu menggantungkan semua biaya hidupku pada orang tua. Aku lantas beranjak dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi. Dengan menarik napas dalam-dalam aku berkata. “Aku harus semangat..! Kamu tidak boleh malas, Vi.” Kataku sendiri mencoba untuk menyemangati. Ingat..! kamu harus segera merampas mimpimu itu dari jiwa malasmu.
Setiap pukul 2.00 dini hari aku buka jurnal praktik yang bertumpuk dengan buku-buku yang lain. Aku mencoba melihat pekerjaanku kemarin. “Huft… apanya yang salah, ya?!” Tanyaku yang bingung sekali. Beginilah pekerjaanku setelah kegiatan praktik. Mengerjakan pembahasan hasil praktik yang sering tidak sesuai dengan teori. Karena aku mengambil pendidikan fisika dan matematika, mau tidak mau aku harus bergelut dengan angka-angka yang aku sendiri tak tahu bagaimana menjelaskannya. Entah apa maknanya.
Mataku pun sudah mulai membengkak karena kelelahan aku ajak begadang. “Lebih baik, aku selesaikan setelah subuh saja.” Kataku sambil menutup buku. Aku langsung membaringkan tubuhku di atas kasur.
Malam itu, terkenanglah cita-cita semasa SD dulu. Saat itu terlintas dalam pikiranku ingin menjadi seorang guru. Bukan tanpa alasan, saat itu guru biologiku sangat mahir menjelaskan pelajarannya. Tidak hanya itu, dia juga mengajar bahasa inggris dan bahasa sunda yang membuatku terpesona. Aku ingin sekali menjadi guru karena guru ilmunya tidak pernah habis walau setiap hari diberikan pada orang lain.
Saat ini langit begitu cerah bertabur bintang-bintang nan menawan. Seperti kehidupanku saat ini, banyak teman disekelilingku. Namun kau rindu hadirnya rembulan, dialah ibuku yang paling berharga dalam hidupku. Membuat hidupku jauh lebih lengkap.
Angin malam kota Jakarta menerpa kulitku, terasa dingin hingga menusuk tulang. Aku merasakan kerinduan timangan kasur nan empuk di kamarku. Membawaku masuk dalam kamar. Perlahan-lahan, diriku dibawa terbang ke awan. Menyusuri pulau nan indah bersama ibuku. Kami sekeluarga terlihat gembira dan begitu menikmati. Aku melihat senyum yang begitu natural, senyum yang terpancar dari hati. Sesuatu yang ibu ekspresikan dengan tulus. Aku begitu senang melihat ibu bahagia. “Buatlah ibu bangga, Vi. Jangan biarkan orang lain merendahkan dan meremehkan kita. Aku yakin kamu pasti bisa membuat ibu tetawa dan bahagia lebih dari hari ini.” Kata ibu mengelus punggungku. Tangannya begitu hangat.
Hari-hari begitu cepat berlalu. Begitu mudah siang berganti malam dan malam berganti siang. Namun tak semudah kewajibanku sebagai siswa yang mengemban amanah berat dari orang tua agar cepat lulus. Itulah beban terberat, lebih berat dari mengangkat badanku sendiri.

Cerpen Karangan : Ravi Naufal S
Facebook : https://www.facebook.com/ravinaufals