Nice

Tips Menjadi Sehat

Banyak cara untuk menjadi sehat

Olahraga Itu Penting

Mengapa olahraga itu penting?

Terbebas dari Penyakit

Banyak rang yang mudah terkena penyakit karena kurang makan dan olahraga

Banyak Minum

Mengapa harus banyak minum??

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2018

HATI YANG LEMBUT

Berbeda dengan Mama,  Papa mempunyai  cara tersendiri  untuk menunjukkan rasa cintanya kepada anak-anak dan keluarganya. Papa, tidak pernah sesering seperti mama mengatakan “aku sayang kamu ataupun kalian”.
Papa akan lebih sering melarangku untuk melakukan hal-hal ini dan itu, atau dengan kata-kata yang lebih kasar, “pakai seragam kok seperti itu, mau jadi apa kamu”, begitulah. Papa lebih banyak marah ketika anak perempuannya keluar rumah sendiri, daripada mengatakan dengan lembut.

“Dina, mau kemana kamu?!!”, jelas Papa melarangku untuk pergi seorang diri, meskipun itu hanya pergi ke toko untuk membeli beberapa kebutuhan.

Yah, aku bukan satu-satunya anak yang sering jengkel,  marah,  kecewa kepada seorang Papa, gumamku.

“aku sudah besar Pa, aku sudah bisa jaga diri !”, tentu saja aku protes dengan perlakuan Papa kepadaku. Jelas aku kecewa karena selalu saja dilarang dan diperlakukan seperti hidup di tahanan. Tapi, apa ternyata pendapat mama tentang Papa yang bersifat seperti itu .

“kamu beruntung sayang memiliki seorang Papa yang seperti itu, itu berarti dia sangat sayang sama kamu”, ujar mama membela papa. “tapi  Ma, aku kan sudah besar, bukan anak kecil lagi”, elakku tidak setuju dengan ucapan mama.

“Dina sayang, justru karena kamu sudah besar makanya Papamu jadi seperti itu, begitulah sosok seorang Papa, meskipun kamu bilang beliau kasar dan menjengkelkan tapi sebenarnya hati Papamu sangat sayang sama kamu, hati papamu lembut nak”, bela mama.

Bila kamu yang dinesehati begitu, apa kira-kira akan menerima nasehat ibuku? Tidak. Ya, sama denganku. Menurutku “Papa tetap egois, tidak memikirkan aku” semakin kesal dalam hatiku.

Aku memang gadis yang berbeda. Sampai usiaku yang ke-17 ini kemana-mana selalu diantar. Tidak boleh membuat acara sendiri. Aku selalu bertanya-tanya, benarkah papa sayang padaku?

“Lalu gimana seharusnya Papa menyayangimu nak?” Tanya Mamaku.

“Seharusnya Papa bisa seperti Mama yang pengertian” Jawabku jengkel.

“Memangnya Mama dan kamu bisa hidup jika Papa seperti itu?” Tanya Mamaku, yang membuatku mengeryitkan dahi.

Papa memang sangat berbeda cara menunjukkan sayangnya. Akupun selalu bertanyta-tanya “Kenapa Papa memperlakukanku tidak sama dengan cara memperlakukan ibu?” Pertanyaan ini semakin membuatku jengkel.

Sampai pada suatu malam yang larut, aku terbangun. Kemudian hendak minum ke dapur melewati ruang keluarga. Tak sengaja aku melihat Papa menghampiri Mama dengan membawa foto-fotoku ketika kecil.

Papa mengatakan “Ma, lihat 15 tahun yang lalu, lucu sekali ya si Dina”

“Iya dong, anak Mama…” balas Mama.

Papa tersenyum lalu menarik nafas yang dalam, kemudian berkata “Anak ini semakin cantik. Bahkan lebih cantik dari yang ku perkirakan dulu. Papa gak ingin ada lelaki hidung belang di luar sana yang menyakitinya, atau bahkan merenggut kehormatannya Ma. Papa ingin dia benar-benar mendapatkan laki-laki yang tepat, saat dia siap nanti”

Mendengar itu semua, dinding kemarahanku seakan runtuh. Tak kuasa aku menahan air mata melihat wajah Papa yang semakin terlihat tua itu. Sekarang aku mengerti. Mulai saat itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk menyayangi Papa dan memaklumi ketegasannya.

— TAMAT —

Kamis, 16 November 2017

MIMPI (Cerpen)

          Namaku Ravi, dan kini aku duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama). Aktivitasku di sekolah penuh dengan kegiatan organisasi serta menjadi relawan kegiatan sosial. Memang awalnya terasa berat, tapi itulah keinginanku. Keinginan dari dalam hati sanubari yang ingin meraih kesuksesan melalui pengalaman-pengalaman hidup di negeri rantauan. Sukses dimasa muda bukanlah sesuatu yang mustahil. Semua memerlukan waktu dan perjuangan yang luar biasa dan melakukan suatu kegiatan di luar kebiasaan kebanyakan orang. Bukan sekadar aktivitas biasa tetapi untuk menebus sebuah mimpi.
Ingin rasanya aku memiliki satu hari yang khusus dihadiahkan untukku. Hari dimana agar aku bisa beristirahat, sejenak menikmati hari libur. Sedikit menghirup udara segar dan terbebas dari rutinitas dalam kampus serta segelintir aktivitas luar sekolah. Rumahku yang jauh dan jadwalku yang begitu padat membuatku jarang liburan pulang ke rumah. Libur Idul Fitri dan Idul Adha adalah jadwal rutinku untuk menemui kedua orang tuaku. Hal inilah yang membuat aku selalu rindu dengan kedua orang tuaku, terutama ibuku.
Ibuku seorang menejer yang luar biasa. Mampu mengurusi semua urusan dalam negeri rumah tangga. Menjadi sosok guru yang terbaik, satu-satunya menteri pendidikan yang kukenal yang mengajarkan nama-nama benda di sekitarku. Mengenalkan agama pada semua anggota masyarakat dalam keluargamu. Menjadi menteri pertahanan yang selalu setia mewujudkan visi misi kehidupan yang sakinah, mawadah, warahmah.
Sosok itulah yang membuat hidupku tetap semangat menjalani hari-hari yang telah Tuhan susun secara sistematis. Hari ini harus lebih baik agar hidupku terus berjalan dan maju ke depan. Walau terkadang rasa capek dan bosan menghinggapiku, menghipnotis semua semangat yang ada. Tapi, aku selalu mencoba menepisnya. Aku tak ingin perjuangan dan kerja keras mereka di desa sia-sia hanya karena sikap malasku. Demi menebus impianku, aku ingin kuliah dengan benar, dan sungguh-sungguh. Aku tak ingin mengecewakan mereka. Pada tiap tetes keringatnya ada kesungguhan dan keikhlasan untukku, memenuhi semua titah Tuhan yang diamanahkannya.
Semester ini memang semester yang melelahkan, tiap harinya hampir melumpuhkan seluruh sel-sel otot tubuhku karena kegiatan praktik dan presentasi yang disambut dengan kegiatan mengajar disisa waktunya. Maklum sudah hampir lulus makannya aku tidak ingin selalu menggantungkan semua biaya hidupku pada orang tua. Aku lantas beranjak dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi. Dengan menarik napas dalam-dalam aku berkata. “Aku harus semangat..! Kamu tidak boleh malas, Vi.” Kataku sendiri mencoba untuk menyemangati. Ingat..! kamu harus segera merampas mimpimu itu dari jiwa malasmu.
Setiap pukul 2.00 dini hari aku buka jurnal praktik yang bertumpuk dengan buku-buku yang lain. Aku mencoba melihat pekerjaanku kemarin. “Huft… apanya yang salah, ya?!” Tanyaku yang bingung sekali. Beginilah pekerjaanku setelah kegiatan praktik. Mengerjakan pembahasan hasil praktik yang sering tidak sesuai dengan teori. Karena aku mengambil pendidikan fisika dan matematika, mau tidak mau aku harus bergelut dengan angka-angka yang aku sendiri tak tahu bagaimana menjelaskannya. Entah apa maknanya.
Mataku pun sudah mulai membengkak karena kelelahan aku ajak begadang. “Lebih baik, aku selesaikan setelah subuh saja.” Kataku sambil menutup buku. Aku langsung membaringkan tubuhku di atas kasur.
Malam itu, terkenanglah cita-cita semasa SD dulu. Saat itu terlintas dalam pikiranku ingin menjadi seorang guru. Bukan tanpa alasan, saat itu guru biologiku sangat mahir menjelaskan pelajarannya. Tidak hanya itu, dia juga mengajar bahasa inggris dan bahasa sunda yang membuatku terpesona. Aku ingin sekali menjadi guru karena guru ilmunya tidak pernah habis walau setiap hari diberikan pada orang lain.
Saat ini langit begitu cerah bertabur bintang-bintang nan menawan. Seperti kehidupanku saat ini, banyak teman disekelilingku. Namun kau rindu hadirnya rembulan, dialah ibuku yang paling berharga dalam hidupku. Membuat hidupku jauh lebih lengkap.
Angin malam kota Jakarta menerpa kulitku, terasa dingin hingga menusuk tulang. Aku merasakan kerinduan timangan kasur nan empuk di kamarku. Membawaku masuk dalam kamar. Perlahan-lahan, diriku dibawa terbang ke awan. Menyusuri pulau nan indah bersama ibuku. Kami sekeluarga terlihat gembira dan begitu menikmati. Aku melihat senyum yang begitu natural, senyum yang terpancar dari hati. Sesuatu yang ibu ekspresikan dengan tulus. Aku begitu senang melihat ibu bahagia. “Buatlah ibu bangga, Vi. Jangan biarkan orang lain merendahkan dan meremehkan kita. Aku yakin kamu pasti bisa membuat ibu tetawa dan bahagia lebih dari hari ini.” Kata ibu mengelus punggungku. Tangannya begitu hangat.
Hari-hari begitu cepat berlalu. Begitu mudah siang berganti malam dan malam berganti siang. Namun tak semudah kewajibanku sebagai siswa yang mengemban amanah berat dari orang tua agar cepat lulus. Itulah beban terberat, lebih berat dari mengangkat badanku sendiri.

Cerpen Karangan : Ravi Naufal S
Facebook : https://www.facebook.com/ravinaufals