Papa akan lebih sering melarangku untuk melakukan hal-hal ini dan itu, atau dengan kata-kata yang lebih kasar, “pakai seragam kok seperti itu, mau jadi apa kamu”, begitulah. Papa lebih banyak marah ketika anak perempuannya keluar rumah sendiri, daripada mengatakan dengan lembut.
“Dina, mau kemana kamu?!!”, jelas Papa melarangku untuk pergi seorang diri, meskipun itu hanya pergi ke toko untuk membeli beberapa kebutuhan.
Yah, aku bukan satu-satunya anak yang sering jengkel, marah, kecewa kepada seorang Papa, gumamku.
“aku sudah besar Pa, aku sudah bisa jaga diri !”, tentu saja aku protes dengan perlakuan Papa kepadaku. Jelas aku kecewa karena selalu saja dilarang dan diperlakukan seperti hidup di tahanan. Tapi, apa ternyata pendapat mama tentang Papa yang bersifat seperti itu .
“kamu beruntung sayang memiliki seorang Papa yang seperti itu, itu berarti dia sangat sayang sama kamu”, ujar mama membela papa. “tapi Ma, aku kan sudah besar, bukan anak kecil lagi”, elakku tidak setuju dengan ucapan mama.
“Dina sayang, justru karena kamu sudah besar makanya Papamu jadi seperti itu, begitulah sosok seorang Papa, meskipun kamu bilang beliau kasar dan menjengkelkan tapi sebenarnya hati Papamu sangat sayang sama kamu, hati papamu lembut nak”, bela mama.
Bila kamu yang dinesehati begitu, apa kira-kira akan menerima nasehat ibuku? Tidak. Ya, sama denganku. Menurutku “Papa tetap egois, tidak memikirkan aku” semakin kesal dalam hatiku.
Aku memang gadis yang berbeda. Sampai usiaku yang ke-17 ini kemana-mana selalu diantar. Tidak boleh membuat acara sendiri. Aku selalu bertanya-tanya, benarkah papa sayang padaku?
“Lalu gimana seharusnya Papa menyayangimu nak?” Tanya Mamaku.
“Seharusnya Papa bisa seperti Mama yang pengertian” Jawabku jengkel.
“Memangnya Mama dan kamu bisa hidup jika Papa seperti itu?” Tanya Mamaku, yang membuatku mengeryitkan dahi.
Papa memang sangat berbeda cara menunjukkan sayangnya. Akupun selalu bertanyta-tanya “Kenapa Papa memperlakukanku tidak sama dengan cara memperlakukan ibu?” Pertanyaan ini semakin membuatku jengkel.
Sampai pada suatu malam yang larut, aku terbangun. Kemudian hendak minum ke dapur melewati ruang keluarga. Tak sengaja aku melihat Papa menghampiri Mama dengan membawa foto-fotoku ketika kecil.
Papa mengatakan “Ma, lihat 15 tahun yang lalu, lucu sekali ya si Dina”
“Iya dong, anak Mama…” balas Mama.
Papa tersenyum lalu menarik nafas yang dalam, kemudian berkata “Anak ini semakin cantik. Bahkan lebih cantik dari yang ku perkirakan dulu. Papa gak ingin ada lelaki hidung belang di luar sana yang menyakitinya, atau bahkan merenggut kehormatannya Ma. Papa ingin dia benar-benar mendapatkan laki-laki yang tepat, saat dia siap nanti”
Mendengar itu semua, dinding kemarahanku seakan runtuh. Tak kuasa aku menahan air mata melihat wajah Papa yang semakin terlihat tua itu. Sekarang aku mengerti. Mulai saat itu aku berjanji pada diriku sendiri untuk menyayangi Papa dan memaklumi ketegasannya.
— TAMAT —





0 komentar:
Posting Komentar