Namaku Ravi, dan kini aku
duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama). Aktivitasku di sekolah penuh
dengan kegiatan organisasi serta menjadi relawan kegiatan sosial. Memang
awalnya terasa berat, tapi itulah keinginanku. Keinginan dari dalam hati
sanubari yang ingin meraih kesuksesan melalui pengalaman-pengalaman hidup di
negeri rantauan. Sukses dimasa muda bukanlah sesuatu yang mustahil. Semua
memerlukan waktu dan perjuangan yang luar biasa dan melakukan suatu kegiatan di
luar kebiasaan kebanyakan orang. Bukan sekadar aktivitas biasa tetapi untuk
menebus sebuah mimpi.
Ingin rasanya aku memiliki
satu hari yang khusus dihadiahkan untukku. Hari dimana agar aku bisa
beristirahat, sejenak menikmati hari libur. Sedikit menghirup udara segar dan
terbebas dari rutinitas dalam kampus serta segelintir aktivitas luar sekolah.
Rumahku yang jauh dan jadwalku yang begitu padat membuatku jarang liburan
pulang ke rumah. Libur Idul Fitri dan Idul Adha adalah jadwal rutinku untuk
menemui kedua orang tuaku. Hal inilah yang membuat aku selalu rindu dengan
kedua orang tuaku, terutama ibuku.
Ibuku seorang menejer yang
luar biasa. Mampu mengurusi semua urusan dalam negeri rumah tangga. Menjadi
sosok guru yang terbaik, satu-satunya menteri pendidikan yang kukenal yang
mengajarkan nama-nama benda di sekitarku. Mengenalkan agama pada semua anggota
masyarakat dalam keluargamu. Menjadi menteri pertahanan yang selalu setia
mewujudkan visi misi kehidupan yang sakinah, mawadah, warahmah.
Sosok itulah yang membuat hidupku tetap semangat menjalani hari-hari yang telah
Tuhan susun secara sistematis. Hari ini harus lebih baik agar hidupku terus
berjalan dan maju ke depan. Walau terkadang rasa capek dan bosan
menghinggapiku, menghipnotis semua semangat yang ada. Tapi, aku selalu mencoba
menepisnya. Aku tak ingin perjuangan dan kerja keras mereka di desa sia-sia
hanya karena sikap malasku. Demi menebus impianku, aku ingin kuliah dengan
benar, dan sungguh-sungguh. Aku tak ingin mengecewakan mereka. Pada tiap tetes
keringatnya ada kesungguhan dan keikhlasan untukku, memenuhi semua titah Tuhan
yang diamanahkannya.
Semester ini memang semester
yang melelahkan, tiap harinya hampir melumpuhkan seluruh sel-sel otot tubuhku
karena kegiatan praktik dan presentasi yang disambut dengan kegiatan mengajar
disisa waktunya. Maklum sudah hampir lulus makannya aku tidak ingin selalu
menggantungkan semua biaya hidupku pada orang tua. Aku lantas beranjak dari
tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi. Dengan menarik napas dalam-dalam
aku berkata. “Aku harus semangat..! Kamu tidak boleh malas, Vi.” Kataku sendiri
mencoba untuk menyemangati. Ingat..! kamu harus segera merampas mimpimu itu
dari jiwa malasmu.
Setiap pukul 2.00 dini hari
aku buka jurnal praktik yang bertumpuk dengan buku-buku yang lain. Aku mencoba
melihat pekerjaanku kemarin. “Huft… apanya yang salah, ya?!” Tanyaku yang
bingung sekali. Beginilah pekerjaanku setelah kegiatan praktik. Mengerjakan
pembahasan hasil praktik yang sering tidak sesuai dengan teori. Karena aku
mengambil pendidikan fisika dan matematika, mau tidak mau aku harus bergelut
dengan angka-angka yang aku sendiri tak tahu bagaimana menjelaskannya. Entah
apa maknanya.
Mataku pun sudah mulai
membengkak karena kelelahan aku ajak begadang. “Lebih baik, aku selesaikan
setelah subuh saja.” Kataku sambil menutup buku. Aku langsung membaringkan
tubuhku di atas kasur.
Malam itu, terkenanglah
cita-cita semasa SD dulu. Saat itu terlintas dalam pikiranku ingin menjadi
seorang guru. Bukan tanpa alasan, saat itu guru biologiku sangat mahir
menjelaskan pelajarannya. Tidak hanya itu, dia juga mengajar bahasa inggris dan
bahasa sunda yang membuatku terpesona. Aku ingin sekali menjadi guru karena guru
ilmunya tidak pernah habis walau setiap hari diberikan pada orang lain.
Saat ini langit begitu cerah
bertabur bintang-bintang nan menawan. Seperti kehidupanku saat ini, banyak
teman disekelilingku. Namun kau rindu hadirnya rembulan, dialah ibuku yang
paling berharga dalam hidupku. Membuat hidupku jauh lebih lengkap.
Angin malam kota Jakarta
menerpa kulitku, terasa dingin hingga menusuk tulang. Aku merasakan kerinduan
timangan kasur nan empuk di kamarku. Membawaku masuk dalam kamar.
Perlahan-lahan, diriku dibawa terbang ke awan. Menyusuri pulau nan indah
bersama ibuku. Kami sekeluarga terlihat gembira dan begitu menikmati. Aku
melihat senyum yang begitu natural, senyum yang terpancar dari hati. Sesuatu
yang ibu ekspresikan dengan tulus. Aku begitu senang melihat ibu bahagia.
“Buatlah ibu bangga, Vi. Jangan biarkan orang lain merendahkan dan meremehkan
kita. Aku yakin kamu pasti bisa membuat ibu tetawa dan bahagia lebih dari hari
ini.” Kata ibu mengelus punggungku. Tangannya begitu hangat.
Hari-hari begitu cepat
berlalu. Begitu mudah siang berganti malam dan malam berganti siang. Namun tak
semudah kewajibanku sebagai siswa yang mengemban amanah berat dari orang tua
agar cepat lulus. Itulah beban terberat, lebih berat dari mengangkat badanku
sendiri.
Cerpen Karangan : Ravi Naufal S
Facebook : https://www.facebook.com/ravinaufals
Cerpen Karangan : Ravi Naufal S
Facebook : https://www.facebook.com/ravinaufals








